Industri Pendidikan memproduksi budak kapitalis

July 22nd, 2008 by liberation-knight

Para terjajah sekuat- kuatnya mengusir para kolonial, setelah keluar, kemudian berbalik badan bergenggaman tangan mengambil racun-racun pemberian imperialis untuk ditelan.

Benar bahwa kebodohan adalah lahan subur bagi kolonialisme. Oleh karenanya Imperialis barat dulunya, begitu ngotot ingin membuat bangsa ini tetap dalam keadaan bodoh. Karena memelihara kebodohan berarti menjaga dominasi atas negeri yang terjajah, yang jika dibaca dengan kacamata kapitalisme adalah melestarikan penindasan dan pemerahan atas sebuah masyarakat yang terjajah demi kemakmuran masyarakat penjajah, lebih khususnya para elit yang terdiri dari para penguasa dan pemilik modal. Pilitik etis munafik yang digulirkan hanyalah demi pemenuhan nafsu untuk mengeruk keuntungan dari penderitaan kaum terjajah. Memang benar bahwa pada akhirnya anak-anak negeri ini mampu menjadi ‘pintar’ dengan secangkir anggur hitam kebaikan para penjajah. Dan lebih hebatnya lagi, pada akhirnya penduduk pribumi menyeret keluar kuku penjajahan dari bumi pertiwi dengan cara apapun.

Tapi justru dengan anggur hitam pemberian penajah itulah, kemudian menjadikan bumiputra terperosok dalam penjajahan yang lebih sadis. Sebuah Pejajahan sistematis yang mejadikan para terjajah merasa merdeka. Bahkan dengan latang meneriakanya demi sebuah kemajuan, demi mengejar peradaban dan demi slogan- slogan gagah atas dasar persamaan ras manusia. Akhirnya putra-putri negeri berbodong-bondong menuju tempat-tempat yang orang banyak menyebutnya sebagai pusat ilmu. Menyerbu demi mendapatkan sesuatu yang dapat mengantarkan mereka dipandang sebagai bangsa beradab di hadapan para kolonialis yang dulu dan sampai saat ini menghisap keringat beserta darahnya. Dengan penuh suka cita anak negeri ini dididik bukan untuk menjadi sebuah msayarkat yang benar- benar merdeka, tetapi dididik untuk melestarikan penajajahan. Bahkan sebagian merasa sangat bangga, sambil tersenyum penuh kepuasan menjadi antek- antek para penjajah yang terus mengangkangkan kaki kolonialismenya di tanah yang telah digenangi keringat dan darah para pendahulunya akibat ditumpahkan oleh pejajah.

Para pemuda –pemudi telah dibuai dengan kepalsuan, iming- iming, mainan- mainan yang diulurkan para penjajah agar merasa tenang dan nyaman dalam melayani para tuan pejajah, agar sukarela menjadi antek antek kapitalisme. Menjadi para individu yang sangat indivdualis, bergerak demi kesengangan sendiri. Dididik menjadi ahli yang kemudian dijadikan sebagai alat oleh kapitalis imperialis untuk mengeruk sumberdaya terjajah demi kemakmuran para imperialis. Sementara para kapitalis imperialis semakin ganas mnghisap keringat dan darah sudara-sudaranya yang lain hinga kering. Para terdidik yang yang sedang dididik, malah asik mengaggumi, mendiskusikan dan meperbincangkan dan berusaha sekuat tenaga mendapatkan mainan-maianan yang dijajakan oleh para kapitalsi yang tentunya tidak dengan gratis, tapi harus mengabdi dan mejadi antek- anteknya bila perlu seumur hidupnya. Sungguh memalukan. Lebih memuakan lagi. Dalam keasyikanitu, lupa dengan lingkunganya, lupa dengan sudaranya yang telah sekarat karena tidak kamasukan makanan karena kemiskinan, sementara dirinya menghamburkan sekian banyak kekayaan yang didapat dari mengabdi kepada kapitlis keparat, hanya utuk sebuah maianan yang melenakan, lupa pula dirinya telah mejadi orang yang terjajajah. Tak sadar pula kalau dirinya telah menjadi antek-antek penjajah Bajingan!

Logis saja jika pendidikan, generasi muda, para penerusnya yang telah menjadi kacrut akibat racun kolonialisme yang dimakanya dalam bangku- bangku sekolah, di sebuah sekolah yang tidak mengajarkan kemerdekaan hakiki, tetepai mengajakan kemerdekaan untuk secara rela mengabdi kepada penjajah dengan tulus ikhlas sepenuh hati. Racun-racun isme yang telah dicekokan sejak masa belia dan terus mengakar dalam urat-urat di batok kepalanya, sehingga mejadi para manusia jahil di abad teknologi.

Jika anda yang sedang membaca ini setuju dengan realitas ini, silahkan renungi dan segera sadarlah, sehingga Anda bisa menjadi pera pahlawan sejati, para pembela yang akan dihormati seluruh penduduk langit dan bumi. Dan siap siaplah untuk memeras keringat dan tenaga, bahkan bila perlu darah, bukan untuk dipersembahkan kepada kapitalis pejajah keparat itu, tetapi dipersembahkan untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki dan perbudakan oleh manusia. Karena kehidupan anda akan lebih berat, lebih berat karena disamping hidup dalam cengkeraman kapitalis, hidud bekerja untuk menyambung hidup, anda harus mengerahkan tenaga untuk melawan bajingan-bajingan itu.

Jika anda tidak setuju, jika anda ingin memaki tulisan ini, silahkan maki sepuas-puasnya, tetapi sungguh makian itu tidak akan berpengaruh tehdapa realitas bahwa anda adalah budak system, budak kapitalis, dan tidak merubah kenyataan bahwa anda jongosnya pejajah, atau lebih parah lagi, antek imperialis.

Bookmark and Share

Terjajah Racun Kolonia

May 27th, 2008 by liberation-knight

Apalah artinya
merdeka, jika merdeka hanya menyisakan rasa rendah diri, ketidakpercayaan diri
yang berbuah decak kagum akan kebesaran tuan penjajah. Kekaguman yang
menjadikan dirinya rela mengikuti setiap langkah, nasehat ataupun petunjuk
fihak yang pernah memperbudaknya. Kerelaan yang mengihklahskan dirinya untuk
mengambil belenggu hukum peraturan yang duilunya dengan sekuat kuatnya dilawan,
ketika penjajah masih bertahta di negerinya.

Apalah artinya
pekik merdeka, ketika pekikan merdeka berubah menjadi sorak sorai penuh
pengagungan musush yang selama ini di musushi dengan penuh kebencian, ketika
penjajah masih bercokol di negerinya. Derai tawa, senyum kemenangan lagu
kegembiraaan ketika panji-panji nasionalisme berkibar sebagai tanda
kemerdekaaan yang dirampas dari penjajah, telah meninabobokan
dirinya. Tak sadar bahwa racun yang disuntikan ke dalam tubuh pemuda dan pemudi
negeri ini telah merasuk ke dalam tulang sumsum,merembes beredar seirama dengan
aliran darah. Tanpa sadar bumi putra telah mewarisi Penjajah. Sebab seluruh
ide, cita cita ,pandangan hidup, cara, metode berfikir telah sempurna
dicangkokan dan terus tumbuh dalam benak generasi pewaris negeri ini Penjajah
telah mereplikasi, kemudian merasuk dengan sekuat-kuatnya menguasai jasad anak-anak negeri yang lahir
dari penjuang-pejuang gigih, pendahulunya.

Meski penjajah
telah angkat kaki, tapi gaya hidup, pandangan-pandanganya, aturan-aturanya,
kaidah berfikirnya, metode pengambilan keputusannya, jawaban-jawabab atas
segala pertanyaan kehuidupan, dijawab dengan jawaban persis seperti penjajah
menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Meski fisiknya tidak hadir memerintah,
tetapi kendalinya terus menjerat leher, memperkosa nurani kaum terjajah ini,
hingga detik ini. Sangat subur ditengah mental kaum terjajah yang benar-benar
menjadi pelayan tuanya. Meski telah
berhasil mengusir penjajah, tapi mental melayani penjajah tidak sirna.

Wajar saja jika
akhirnya penguasa beserta jajaranya, ditambah pemikir dan ahlinya, lebih suka
perfihak kepda penjajah dan mendukungnya untuk terus mengeruk kekayaan rakyat
kaum tertindas. Karena baik mental maupun kepribadian, beserta ilmu teoritis dan prkatis untuk mengatur
rakyatnya berasal dari penjajah, yang telah diformat mengikutiarahan
kolonialis.

Oleh karenanya
selama kaidah, beserta cara pandang,
cara berfikir, pemikiran mental dan kepribadian ummat ini masih seperti barat
penjajah, selama itu pula rakyat negeri ini akan trus dibawah cengkeraman kuku
penjajah. Meski kenyataanya yang memipin adalah anak anak bumi pertiwi. Sebab
anak negeri ini ibarat boneka lucu yang bagus buat bermain, boneka yang tidak
sadar kalau ternyata dia adalah boneka. Bagaikan robot yang otaknya telah
diprogram oleh penjajah.

Jika tulisan saya ini dibaca oleh mausia yang masih
terjajah, mausia yang belum termerdekakan baik fisik, mental, maupun
intelektualnya, mungkin saya akan dimusuhi, dibantah dan ditentang dengan
sesengit-sengitnya. Tapi, peduli amatlah, sebab kebenaran harus disampaikan,
meski sakit dan menyakitkan

Bookmark and Share

Welcome death of Capitalisme

April 25th, 2008 by liberation-knight

Tulisan ini dibuat, bukan untuk memuaskan dahaga
caci-maki, atau sekedar kata-kata gagah, sebagai hiburan di tengah keputusasaan
ditindas kapitalis. Tetapi tulisan ini untuk menggerakkan perlawanan menumbangkan
kapitalis. Maka bergeraklah menyebarkan ide ini dan mengajak semua orang untuk
melawan, meski sekali, lebih berarti dari menulis ribuan tulisan indah dan
kata-kata gagah.


Di zaman yang
menjadikan luasnya samudra dan tingginya gunung menjadi tidak berarti, kapitaslime
global semakin kuat mencegkeramkan kuku-kukunya, dunia pun merintih. Sungguh
kapitalisme itu telah tumbuh ibarat gurita, yang begitu angkuhnya medikte, pikiran-jiwa
tergadai, untuk memujanya layaknya dewa.

Memperbudak manusia
atas nama kesejahteraan bersama, membiusnya dari pembebasan yang hakiki. Sebuah
ketololan yang rela menyembah kapitalisme global demi kenikmatan sesaat, dalam
bayang ilusi yang dipaksakan sebagai akhir dari sebuah perjalanan zaman.
Kapitalisme mencekoki jiwa-jiwa pengecut kaum terjajah, sebuah mitos
kedigdayaannya, yang melahirkan hidup para pecundang hina di bawah telapak
kakinya. Kemudian mendudukan para
cecunguk, yang hidup bak raja dalam sekulerisme Negara nan demokratis, manipulasi
kebodohan umum, sehingga cengkeraman bajingan itu seakan sah hanya karena klaim
suara rakyat yang disahkan dalam sebuah kesepakatan dungu.

Roda kehidupan
terus bergasing, menjadikan langkah manusia semakin lambat tertatih, karena
sarat dengan beban, lemah terperah kerakusan kapitalisme global tolol keparat,
terseok mengusung borok-borok kebusukan genetik kapitalisme. Sehingga jelas
bagi para pejuang ideologis revolusioner, arah ketertatihan kapitalisme itu
kini tengah merangkak menuju jurang takdirnya, Kematian!

Kini saatnya membebaskan
jiwa tertidur dalam penjara ilusi kapitalisme. Membersihkan dari benak dan
pikiranya yang telah teracuni. Kita bertempur mati-matian merebut setiap bagian
wilayah dalam pikiran yang terpasung kesesatan berfikir yang ditanamkan para
penjajah itu. Kita akan terus bertempur hingga buah pikiran, imajenasi, ilusi
dan bius racun kolonial itu enyah dari benak kaum terjajah. Membebaskan mereka
dari ketololan umum, dan kemudian menyatukan kekuatan, merapatkan jari,
mengepalkan tangan, bersama menumbangkan dominasi kapitalisme, menggusur para
cecenguk beserta antek-anteknya.

Kawan! Kita
akan patahkan satu persatu organ-organ yang menopang dominasinya, kita yang
akan mencabut penghisap bernama kebebasan kepemilikan. Akarnya kita putuskan
satu per satu kemudian kita goyang sekeras sekencang-kencangnya tembok kapitalis
itu rata dengan tanah.

Kawan, kita
sudah pada titik tidak bisa mundur lagi, kita sudah sampai fase perlawanan
total. Perlawanan yang tidak menyisakan ruang di dunia ini, untuk bebas dari
pertarungan melawan kapitalisme, pertarungan yang tidak memerlukan lagi bahasa
basi, bahasa pengecut, bahasa kaum hipokrit, bahasa para penjilat, bahasa para
dungu yang bebal. Pertarungan yang tidak perlu disembunyikan lagi maksud sejati
dalam perkataan yang terlontarkan, yaitu mengubur kapitalisme.

Kawan, kita
melawan kapitalisme di rumah-rumah, di gang-gang, di kampung-kampung, di desa,
di kota, di setiap daratan, semua benua, di seluruh permukaan bumi di setiap
tempat hidup manusia, karena kapitlisme global telah mencengkeram dunia. Di semua tempat itu kita bertarung,
bertempur total. Di semua tempat itu, kita suarakan maksud sejati kita dengan
tegas dan terang terangan. Kita benar-benar akan melihat terwujudkan perlawanan total itu.

Maka kita saat ini yang ada di sini, mengisi siang
dan malam kita dengan pertarungan. Menggelar dialog, diskusi meyakinkan
masyarakat untuk berjuang, memupuk keberanian masyarakat, mendorong
pembangkangan, memicu perlawanan, mencipatakan momentum, menyulut revolusi
menumbangkan kapitalisme, menuju revolusi internasional! Revolusi internasional
yang akan menjungkirkan zaman, mengakhiri dominasi kapitalisme.  Jakarta, 30 Juli 2007 : 02.26 [Liberation
Knight]

 

Saat
kesadaran umum akan jalan hidup yang benar telah nyata di tengah masyarakat,
saat itulah kapitalis harus menggali lubang kematianya, kemudian menulis obituary-nya.
Saat itu aku dengan gembira akan menuliskan T.E.C (The End of
Capitalism) di akhir berita kematianya.

 

 

Bookmark and Share

Revolter’s Loyality

April 3rd, 2008 by liberation-knight

Di tengah bimbang, keputus-asaan, manusia rentan terbujuk rayuan beracun. Kesulitan dan ketidakadilan, ketidakpercayaan akibat penipuan rekursif, menjadikan manusia mudah terperangkap provokasi melawan tirani. Kondisi yang subur bagi pergerakan, memicu sikap perlawanan. Terlebih lagi bila bara api kebencian semakin membara di dalam diri masyarakat, menyulut aksi rebelion revolusioner.

            Menggerakan massa yang sudah demikian putus asa, hidup di bawah tirani ketertindasan, tiadalah sebuah kesulitan. Mudah!! Karena bagi manusia dan sekelompok masyarakat atau masyarakt luas tidak penting lagi siapa yang menggerakkan, sebab yang terpenting adalah segera melenyapkan tirani, membebaskan diri dari segala penderitaan. Keadaan yang menggiurkan bagi kaum oportunis, tetapi sama sekali tidak bagi kaum revolusioner ideologis.

            Sebab kaum revolusioner selalu setia pada ideologi. Tergeraknya massa akibat kelaparan dan kesengsaraan semata bukanlah yang diidamkan kaum revolusioner. Pergerakan itu,  bagi kaum revolusioner, adalah sebuah tindakan yang tak bernilai, hanya akan menuai malapetaka. Ibarat kembang api yang menyala terang kemudian segera pandam selamanya. Pergerakan revolusioner laksana matahari, yang menyala terangterus menerus tanpa henti. Oportunis bergerak karena tahta, harta dan wanita, yang terhenti manakala tercapai maksudnya. Sungguh, sesuatu yang tidak disifati oleh kaum revolusioner.

            Kaum revolusioner tidak peduli dengan kesulitan dan tantangan serta derasnya arus perlawanan idoelogis, tidak perduli dengan penderitaan yang akan dialami, tidak menyerah dengan kondisi, tidak memperdaya kebodohan, tidak menipu kepentingan, apalagi memanipulasi kemelaratan serta deraan kesulitan hidup. Kaum revolusioner tidak menggunakan semangat rendahan untuk mencapai tujuannya, melainkan hanya dengan kesadaran saja. Revolusi  tidak butuh orang oportunis, sebab oportunis hanya setia pada perutnya saja. Yang dibutuhkan revolusi adalah revolusioner idoelogis sejati, yang setia hanya pada ideologinya sampai mati.

            Sebab ideologi milik kaum revolusioner tidak menjanjikan kesejahteraan semu, tidak mengiming-imingi dengan harta, atau mempropagandakan kemakmuran  semu, maupun menjajakan kebahagian semu. Revolusioner juga tidak memberi imajinasi kekuasaan, mimpi-mimpi orang malas, bodoh dan bajingan. Tetapi revolusi hanya menjanjikan syurga, keridhloan Penguasa seluruh makhluk, Pemilik langit dan bumi beserta isinya. Revolusi menunjukkan jalan kemuliaan hidup, jalan perjuangan, jalan harga diri sebagai ummat terbaik  yang ditakdirkan memimpin dunia dan menjadi saksi atas ummat yang lain.

Bookmark and Share

Let’s Revolt 3 (RnR#5)

March 29th, 2008 by liberation-knight

Berdirinya sebuah pemerintahan, sebuah negara baru mutlak memerlukan adanya kekuatan. Sebab hanya kekuatanlah yang akan menyokong tagaknya suatu sistem. Tanpa kekuatan, sebuah sistem hanyalah sebuah coretan-coretan di atas ketas yang tidak berarti. Sebuah hukum tanpa tanpa pemaksaan adalah sebuah lelucon tolol . Oleh karena itu untuk mewujudkan negara baru, pemerintahan baru yang mengganti sistem usang, diperlukan  kekuatan (power).

Pemilik asli power tersebut sejatinya adalah ummat. Ummatlah yang memiliki kekuatan, ummatlah yang akan menentukan siapa yang berhak memimpin, ummatlah yang menentukan tegak dan runtuhnya suatu pemerintahan atau bahkan sebuah negara. Sebuah negara tanpa dukungan ummat hanyalah sebuah rezim diktator dari sekelompok orang, sebuah rezim yang sebentar lagi akan runtuh. Untuk mewujudkan revolusi melancarkan perubahan, maka dukungan dari pemilik kekuatan real ini harus didapatkan. Di dalam masyarakat, kekuatan tersebut tersebar ke dalam kelompok-kelompok. Partai politik, organisasi masa, militer, suku-suku, pemimpin pondok pesantren, paguyuban, baik secara kelompok maupun diwakili oleh pemimpin atau orang yang dituakan atau tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat yang dijadikan rujukan dan ditaati perkataanya. Perubahan pemikiran dan cara pandang mereka (kelompok ini ) akan menentukan arah pergerakan dan kemajuan revolusi. Sebab sejatinya merekalah yang mempunyai kekuatan tersebut. Karena mereka yang ditaati dan didengarkan ucapannya oleh masyarakat  atau paling tidak oleh banyak individu, tentu saja semakin banyak yang mengikuti berarti semakin besar powernya. Ketika loyalitas mereka dialihkan dari sistem hidup lama yang terwujud dalam pemerintahan, kepada sistem yang  baru, maka masyarakat dan pengikutnya mengikutinya.

Oleh sebab itu dukungan kelompok ini terhadap pemerintah harus dihentikan, kepatuhan mereka terhadap rezim yang memerintah harus segera dialihkan kepada pandangan kaum revolusioner. Kepada calon-calon pemimpin baru kepada ideologi baru dan sistem yang akan diterapkan, sehingga loyalitas mereka diberikan kepada ideologi kaum revolusioner. Oleh sebab itu maka, ide-ide perubahan harus menyentuh golongan-golongan dan kelompok atau tokoh-tokoh tesebut. Disamping masyarakat luas di tingkat grass root. Kaum revolusioner terus melakukan upaya untuk memutuskan dukungan masyarakat dari penguasa. 

Hal tersebut dilakukan dengan penyadaran dan menampakan kebejatan sistem sekarang. Untuk menampakkan kebejatan sistem sekarang, aktifitas membongkar kejahatannya, membongkar persekongkolannya dengan musuh musuh Islam, membongkar kebusukan kebusukanya dan segala kesesatan sistem dan pemerintahan yang ada harus dilakukan.  Melawan propaganda - propaganda sesat dari penguasa, mengcounter opini yang dilontarkan penguasa, meyakinkan kepada masyarakat akan kehinaan hidup dengan mendukung penguasa, dan kemuliaan hidup di bawah naungan Islam. Diskusi baik secara publik, maupun idividu terus dilakukan, perbincangan di warung, di tempat kerja, di pinggir jalan, di mall, di warung indomi, di pasar, di dalam angkot harus terus dilakukan oleh kaum revolusioner dan seluruh masyarakat. Tablik akbar, seminar, dan pembagian leaflet serta selebaran yang berisi tentang kebenaran Islam dan kesesatan kapitalisme demokrasi, sosialisme, dan ide-ide yang bukan berasal dari Islam, yang sekarang diterapkan oleh penguasa. Mengkritik kebijakan-kebijakan salah dari penguasa dilawan dengan konsepsi unggul milik Islam.

Dilakukan secara meluas di seluruh wilayah kekuasaan penguasa lama, dan dilakukan terus menerus sehingga masyarakat atau pemilik kekuatan resmi tersadarkan dan tercerahkan, akhirnya mengalihkan kepatuhan dan loyalitasnya dari penguasa lama ke pada idoelogi baru beserta sistemnya. Melawan pemerintah, dan mewujudkan pembangkangan massal. Pada tahap ini kondisi real penguasa sebenarnya sudah jatuh. Sebab mereka sudah tidak punya power lagi, tidak punya kekuatan dan penyokongnya. Kejatuhannya tinggal menunggu waktu, kemudian digantikan oleh sistem yang baru , sistem yang  benar.

Bookmark and Share

Let’s Revolt 2 (RnR#4)

March 26th, 2008 by liberation-knight

Dalam sejarah perubahan masyarakat, baik dulu maupun sekarang, selalu diawali munculnya sebuah pemikiran baru. Di Cina kuno, setelah kemunculan konfusius, kemudian pemikiran dan konsep-konsepnya diadopsi oleh masyarakat, maka berubahlah tatanan masyarakat Cina menjadi masyarakat yang sangat bercirikan konfusius.

Pada zaman tengah, bangkitnya filsafat Yunani, yang ditandai munculnya pemikiran seperti John Locke, Thomas Hobbes, Montesque, Voltaire, Adam Smith dkk mengawali lahirnya ideologi kapitalisme-sekular-demokrasi. Pemikiran baru tersebut mengakhiri kekuasan sistem monarkhi feodal di seluruh daratan Eropa, menjadi sistem demokrasi sekular. Kemunculan filsafat materialis, dan terkrsitalisasinya ideologi sosialisme, mengawali kejatuhan monarkhi Rusia dan beralih menjadi Soisalis-Komunis. Demikian juga ketika Islam turun di tengah masyarakat Arab pada awalnya, kemudian meluas ke seluruh penjuru dunia. Turunnya Islam di tengah-tengah manusia mampu merubah secara fundamental sistem kehidupan, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya dan juga hukum di tengah-tengah manusia.

Namun pemikiran manakah yang berkuasa saat ini? Benar! saat ini dunia sedang didominasi kekuasaan kapitalisme-sekular. Ide itu sejatinya bukanlah ide kita kaum muslimin, sistem tersebut adalah rusak yang menjerumuskan penganutnya ke dalam neraka jahanam. Sebuah kekuasaan yang harus segera diakhiri. Bukan dengan menghancurkan manusianya, bukan dengan merusak infrastruktur fisiknya, juga bukan bangunan dan gedung-gedungnya, tetapi menghancurkan ide dasarnya. Untuk menghancurkan ide dasar tersebut, tentu bukan dengan bedil dan bom, atau dengan tank dan peluru kendali, tetapi dengan ideologi yang shahih dan kuat. Pertempuran melawan ide kapitalisme merupakan awal bergulirnya sebuah revolusi, revolusi suci yang bersumber dari kekuasaan mutlak absolut Penguasa alam semesta. Pertarungan tersebut akan memporak-porandakan kemapanan bangunan berfikir masyarakat yang telah terkapitalisasikan. Letupan-letupan gagasan Islam yang dilontarkan ke tengah masyarakat, dentuman-dentuman pemikiran ideologi Islam akan mendesak keluar ide kapitalisme dan derivatnya dari memori masyarakat, didorong keluar dari balik batok kepala masyarakat luas. Ketika masyarakat luas sudah mengacuhkan dan membuang ide kapitalisme, maka kematian idelologi kapitalis tinggal setarikan nafas.

Ideologi kapitalis sedang menunggu ajalnya alias sekarat!! Bangunan sistem kapitalis yang megah dan mewah sesaat lagi akan runtuh, kerena penopangnya telah keropos dan lapuk. Tetapi tentu saja, musuh-musuh Islam tidak akan pernah rela membiarkan Islam jaya, tidak akan membiarkan Islam mengalahkan mereka, mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk memenangkan pertarungan tersebut. Mereka akan mengerahkan instrumen pro status quo melalui kepanjangan tangan mereka dan penjaga-penjaga mereka. Bahkan sangat mungkin mereka akan menggunakan cara-cara pengecut yang sering digunakan para penjahat atau cara-cara mafia. Artinya peperangan di medan pertempuran berubah menjadi intimidasi secara fisik. Jika kondisinya demikian, maka tidak sekali-kali diperbolehkan bagi pengusung revolusi putih untuk kembali membalas dengan cara yang sama, sekali lagi revolusioner putih berbeda dengan mereka, kita golongan bersih dan mereka bukan, kita golongan putih dan mereka hitam. Tetap bersabar dalam menghadapi kekejian mereka serta tetap teguh, kokoh dengan prinsip-prinsip revolusi. Sebab revolusi yang benar jangan sampai dikotori oleh hal-hal busuk yang menodai kesuciannya. Revolusioner putih harus terus menyebarkan dan melanjutkan pertarungan di medan pemikiran hingga mayoritas masyarakat baik kalangan sipil maupun militer menerimanya dengan hati ikhlas dan lapang dada serta tunduk kepada kebenaran yang haqiqi tersebut. Letupan-letupan pemikiran yang shahih harus terus digencarkan hingga ide-ide tersebut merajalalela di masyakat, baik di kalangan tokoh maupun jelata, baik borjuis maupun proletar. Karena sejatinya ummat-lah pemilik kekuasaan. Ummat bebas memilih siapa yang akan diberi kekuasaan dan itu tergantung apa yang tersimpan di dalam jutaan jalinan syaraf yang ada di otaknya.

Fakta sejarah pun telah menunjukan bahwa tidak semua revolusi atau yang semacam revolusi berlangsung dengan berdarah-darah. Restorasi Meiji di Jepang memang memunculkan pembataian, runtuhnya kekaisaran Cina terakhir juga berlumuran darah, Revolusi perancis yang melahirkan kapitalisme berlangsung chaos, revolusi merah di Russia penuh dengan darah yang tertumpah. Revolusi september 65 yang gagal juga tak luput dari darah. Dan itu fakta, tetapi fakta juga berbicara bahwa runtuhnya Uni Soviet, runtuhnya tembok Berlin, dan juga keruntuhan Komunisme di seluruh Eropa Timur sebenarnya bisa dikatakan berlangsung secara damai. Revolusi suci yang dilakukan oleh Muhammad saw, merupakan revolusi damai sempurna, terjadi tanpa setetes darahpun yang tertumpah. Itulah revolusi yang harus diusung setiap jiwa muda Muslim di seluruh permukaan bumi ini. REVOLUSI PUTIH.

Bookmark and Share

Let’s Revolt (RnR#3)

March 19th, 2008 by liberation-knight

Seruan ini tertuju kepada jiwa-jiwa yang sadar akan eksistensi diri sebagai makhluk berserah diri pada pencipta. Kepada hati-hati yang masih terbuka dan lapang terhadap kebenaran. Kepada akal yang masih sehat, yang masih mampu menerima kebenaran. Biarlah tubuh-tubuh yang telah mati kehilangan jiwa, tubuh-tubuh yang telah dirasuki setan-setan kapitalis. Biarlah para zombi-zombi berdasi dengan wajah manis tetap membeku diam seribu kata. Biarkanlah jawara-jawara yang rela diperbudak iblis sekularisme itu terlena dalam gelimang nafsu keserakahan.  Wahai saudaraku dengarlah seruan ini.

Bahwasanya kalian berada dalam keadaan yang sangat hina, suatu keadaan yang tidak seharusnya kalian alami. Kalian bukan lagi ummat yang terbaik yang dilahirkan ditengah-tengah manusia. Kenapa ? karena kalian semua telah mencampakan, menendang jauh-jauh syariat Islam yang agung, kalian telah meremehkan penegakan hukum-hukun Islam. Bukankah Allah sudah mengingatkan kalian dalam kitab suci yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul kalian, bahwa barang siapa yang meninggalkan peringatanya akan ditimpa kehidupan yang sempit dan di akherat termasuk ke dalam golongan yang merugi. Wahai saudaraku sesungguhnya saat ini anda sekalian sedang dalam cengkeraman bajingan kafir emperialis Negara barat beserta anteknya. Tahukah saudaraku saat ini saudaramu sedang dibantai, digorok lehernya, ditenteng kepalanya, dialirkan darahnya, dikeluarkan otaknya, dibakar hidup-hidup, saudara perempuanmu diperkosa, dibunuh keponakanmu dicincang bahkan yang belum sempat menghidup udarapun dihabisinya, oleh siapa ? tentu saja oleh musuh-musuh kita, orang kafir umpan neraka jahanam. Lebih dari itu, saudara telah diadu domba sehingga antar kita dengan mudah saling menodongkan pistol ke kepala satu sama lain, kemudian meledak dan berhamburanlah isi otaknya bersamaan mengalirnya darah yang berwarna merah. Untuk kesekiankalinya mereke telah membantai kita.

Tahukan anda saat ini kalian dalam keadaan yang miskin, sehingga pemimpin-pemimpin kalian rela mengemis kepada tuan-tuan kafir pimpinan AS, padahal kalian berdiri diatas tanah yang subur dan kaya. Tahukah kalian berapa banyak minyak yang terkandung di bumi kita dirampok konglomerat kapitalis, berapa besar emas kita dicuri, berapa banyak hutan kita dijarah, berapa banyak ikan-ikan yang berenang di laut kita ditangkap pencuri asing. Kekayaan yang menjadi hak saudara, kekayaan yang menjadi hak anak-cucu kita dan kekayaan yang menjadi hak seluruh kaum muslimin dan non muslim, harus dinikmati mulut-mulut rakus kapitalis bahkan didepan mata kita dengan tanpa rasa malu. Sementara anda dan saya bahkan generasi yang akan datang hanya menjadi budak-budak mesin-mesin industri dari pabrik kapitalisme, diperas keringatnya sampai tak tersisa, sementara imbalanya tak lebih hanya untuk memenuhi isi perut sesaat. Belum cukup, mereka memaksakan peraturan-peraturan yang akan memperkokoh cenkeraman mereka, agar lebih ganas lagi menghisap seluruh kekayaan kita, bahkan untuk minumpun kita harus membayar mahal, melebihi harga bensin, mungkin nantinya juga untuk bernafaspun kita disuruh membayar. Keparat kapitalis itu dengan enaknya duduk-duduk di kursi malas sambil tertawa penuh kemenangan sembari melemparkan senyum sinis penuh ejekan kepada kita. Kemudian dengan jumawa mereka meneriakkan kata-kata gagah kebebasan, demokratisasi, pasar bebas, HAM, emansipasi, keterbukaan dan bermacam-macam racun-racun kehidupan lainnya, racun yang akan membuat penganutnya pasti mati. Sungguh suatu pemandangan yang sangat memuakkan.

Wahai saudaraku semua itu terjadi bukan karena kehebatan dan kedigdayaan mereka, tetapi karena kelemahan dan kedunguan kita. Sikap kita yang mecampakan hukum Islam, meremehkan seruan Allah dan Rasulnya, dan yang lebih parah lagi kita justru rela menelan racun yang dihidangkan orang kafir kepada kita. Karena itulah sehingga anda begitu mabuk, linglung. sekarat, sehingga mudahlah bagi mereka menghabisi kalian. Diperparah dengan sikap pemimpin yang dipercaya ummat yang justru berkhianat dan rela menjadi anjing-anjing kafirin dan kukuh dengan kekufuran. Dengan perantara anjing itu pula barat dengan sukses mencekokkan racunya, bahkan melalui tangan mereka pula secara biadap menumpahkan darah saudara kita. Belum lagi dengan system yang diciptakan untuk lebih menancapkan kuku kapitalisme di bumi kita dan karena racun itu telah merasuk begitu dalam dalam benak kita, bahkan sampai yang paling ikhlas di antara kita, menyebabkan linglungnya langkah perjuangan untuk membebaskan ummat. Perjuangan telah membentur batu karang, angin perubahan pun terbendung. Dalam kondisi seperti tidak ada jalan lain kecuali satu REVOLUSI. “Revolusi Putih” revolusi tanpa darah, tanpa kekerasan, tanpa senjata, kecuali kata-kata yang bermakna, yang akan membebaskan ummat dari cengkeraman kuku kapitalisme, membebaskan dari belenggu hukum kufur menyibak tirai kebekuan dan mengembalikan ummat pada posisinya sebagai ummat yang terbaik.

Bookmark and Share